OPEN TRIP : MY BACKPACKER ID

PENDAKIAN SLAMET VIA BAMBANGAN 2019

Purbalingga – Pendakian ke puncak Gunung Slamet melalui pos Bambangan, Desa Kutabawa, Kecamatan Karangreja, Purbalingga, kembali ditutup sementara. Penutupan mulai 22 Juli 2019 hingga batas waktu yang belum ditentukan.

“Mulai 22 Juli sampai batas waktu yang tidak ditentukan, itu tergantung situasi dan kondisi, karena memang arah kita mau menata ulang,” kata Kepala Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Banyumas Timur, Didiet Widhi Hidayat saat dihubungi wartawan, Jumat (19/7/2019).

Menurut dia, penutupan jalur pendakian Gunung Slamet melalui Bambangan ini dilakukan untuk pemulihan ekosistem, konservasi, pembersihan sampah sepanjang jalur pendakian dan pemasangan rambu-rambu jalur pendakian. Selain itu, langkah ini juga sebagai antisipasi kebakaran hutan disaat musim kemarau.

“Pendakian melalui Bambangan memang kondisi pengelolaannya menurut kami kurang maksimal. Seperti penataan jalur, penataan rambu rambu pendakian, kemudian sampah, kemudian warung warung itu kan perlu waktu untuk penataan, jadi kita belum bisa kasih ancar ancar sampai kapannya,” jelasnya

Saat ini, pengelolaan jalur pendakian Gunung Slamet sudah diserahkan kepada Perum Perhutani KPH Banyumas Timur. Sedangkan sebelumnya pengelolaan pendakian dipegang oleh Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purbalingga.

“Sesuai hasil kesepakatan kami tanggal 13 Juni itu kan ada permintaan dari kita dan LMDH untuk menata ulang pengelolaan pendakian via Bambangan. Karena kita menganggap pengelolaan dibawah Pemkab itu kurang maksimal dari sisi administrasi kemudian lingkungan termasuk pengamanan terhadap pendaki,” ucapnya.

Meskipun pada awalnya ada usulan agar pengelolaan dilakukan multi pihak antara LMDH, Perum Perhutani KPH Banyumas Timur dan Pemkab Purbalingga. Namun kemudian, Pemkab Purbalingga menyerahkan pengelolaan pendakian kepada LMDH dan Perum Perhutani KPH Banyumas Timur.

“Setelah itu kita di tugasi untuk menyusun rencana rencana kedepannya mau seperti apa. Langkah awalnya kita ya kita tutup dulu, mau kita tata ulang. Masih proses dalam Minggu ini pembuatan dan pemasangan (rambu-rambu),” ujarnya.

Dia menjelaskan jika dengan penutupan jalur pendakian ini dapat mengurangi risiko kebakaran hutan di saat musim kemarau.

“Karena pendaki biasanya bikin api unggun, dengan kita tutup ini kan secara otomatis mengurangi risiko kebakaran hutan. Kita akan segera pasang imbauan-imbauan dan ramburambu penutupan ini,” tuturnya.

Sebelumnya, jalur pendakian Gunung Slamet melalui Bambang, Kabupaten Purbalingga ini pernah ditutup pada tanggal 10 Januari 2019 hingga tanggal 2 Maret 2019 lalu. Penutupan tersebut juga untuk pemulihan ekosistem.

TIPS MENDAKI BAGI PEMULA

TIPS MENDAKI BAGI PEMULA – akhir-akhir ini kegiatan mendaki gunung tidak hanya dilakukan oleh pencinta alam, melainkan kegiatan favorit dilakukan di kalangan muda mudi yang umumnya terdiri dari pelajar dan mahasiswa. Banyak diantara mereka yang sudah berpengalaman dalam mendaki gunung, tapi tak sedikit juga yang belum begitu akrap dengan kegiatan yang satu ini. Kebanyakan dari mereka yang masih newbie dalam urusan mendaki gunung memiliki motivasi lebih  untuk mendaki karena mungkin ingin mecoba pengalaman baru yang penuh tantangan dan tak sedikit pula mereka yang di pameri foto-foto indahnya alam gunung dari teman-teman yang baru saja mendaki gunung sehingga mereka mempunyai keinginan untuk mendaki gunung setelah melihat foto mereka. Tetapi mendaki gunung agar bisa sampai puncak itu bukan perkara yang mudah.

Menurut pengalaman saya setelah beberapa kali mendaki gunung, banyak pendaki yang tidak sampai tujuan alias tidak sampai puncak yang dituju. Saya sebagai penulis juga pernah mengalami hal tersebut karena kurang persiapan. Kalo sudah terjadi begitu maka Cuma ada penyesalan. Tapi tenang saja saya akan bagi-bagi tips mendaki gunung untuk pemula yang harus di lakukan agar bisa sampai puncak. Oke langsung saja ke tips mendaki gunung bagi pemula  ;

1. Melatih otot kaki dan kesimbangan

Kegiatan melatih otot kaki bisa dilakukan dengan lari di pagi hari atau sore hari, diusahakan rutin dilakukan seminggu sebelum mendaki . kegiatan ini bertujuan untuk melatih otot kaki agar tidak kaget dalam mendaki gunung mengingat trek yang harus dilalui tidak lah mudah. Tapi jangan khawatir apabila kamu bisa rutin dalam melakukan kegiatan ini, trek yang sesulit apapun mampu kamu lewati dengan mudah. Selain lari pagi ada juga hal yang harus kamu latih yaitu kesimbangan. Untuk melatih keseimbangan, bisa dilakukan dengan senam-senam kecil seperti berdiri beberapa saat dengan satu kaki . Kegiatan ini ideal dilakukan setelah lari pagi atau sore sudah kamu lakukan.  Apabila lari pagi atau sore dan senam kecil sudah kamu lakukan secara rutin, kamu sudah lolos tahap awal dalam persiapan medaki gunung bagi pemula.

2. Jaga Kesehatan

Kesehatan merupakan hal yang paling vital dalam proses pendakian gunung, bayangkan saja apabila naik gunung dalam keadaan tidak fit. Meurut pengalaman saya, dulu waktu naik gunung sindoro ada salah satu teman saya dalam keadaan tidak fit nekat untuk naik gunung, alahasil teman saya itu berhenti di tengah jalan alias tidak sampai. Tidak Cuma itu saja, dalam masa pejalanan teman saya itu hanya mebuat susah pendaki yang lain karena menghambat perjlanan dan terus mengeluh. Tentunya kamu tidak mau kan hal tersebut terjadi pada diri kamu, tapi tenang saja saya punya tips agar hal tersebut tidak terjadi yaitu diusahakan jangan tidur terlalu larut malam seminggu sebelum mendaki gunung dan tidurlah secara cukup.­­ Kalo perlu konsumsi lah vitamin agar kamu teteap fit sampe hari untuk mendaki telah tiba.

3. Perlengkapan yang harus di bawa Ketika Mendaki Gunung

Setelah persiapan fisik sudah di lakukan kini tinggal mempersiapkan peralatan yang harus dibawa di saat kamu mau mendaki gunung. Perlengkapan mendaki gunung juga hal yang patut kamu siapkan dengan baik, bisa fatal akibatnya kalau kamu tidak mempersiapkan peralatan yang akan kamu bawa. Cerita tentang pengalaman saya lagi hehehe, karena dari pengalaman kita akan belajar. Dulu waktu pertama kali mendaki gunung saya kurang memperhatikan dalam mempersiapkan peralatan mendaki gunung. Alhasil kegiatan mendaki gunung yang saya lakukan tidak seindah yang dibayangkan karena kurangnya dalam peralatan. Tentu hal tersebut tidak ingin terjadi pada kamu kan. Nah maka dari itu berikut peralatan yang wajib di bawa ketika mendaki gunung. Yang pertama yaitu jaket, sarung tangan, tutup kepala, sepatu gunung, kaos kaki, tas besar, tas kecil, sleeping bag, tenda, matras, senter, tongkat untuk meringankan beban tubuh, mantol,  peralatan memasak gunung jika diperlukan dan tidak lupa yaitu kamera buat selfie di puncak gunung  . jangan lupa sebelum naik gunung kamu cek dulu perlengkapan kamu.

4. Konsumsi Yang Harus Dibawa

Konsumsi merupakan salah satu hal yang penting dalam proses mendaki gunung. Dulu saya pernah gagal sampai puncak gara-gara kehabisan konsumsi. Nah berikut konsumsi yang harus kamu bawa yaitu air putih 2 botol berisi 1.5L, Roti, Nasi + lauk kalo perlu, Mie instant, coklat untuk menambah tenaga kamu saat mendaki, kopi atau sejenisnya dan air cadangan. Itu merupakan konsumsi pokok yang harus saya bawa ketika mendaki gunung.

5. Cara berjalan ketika mendaki

Ketika mendaki gunung juga tidak asal-asalan dalam berjalan, pastinya kamu tidak mau kan hal yang buruk terjadi pada kamu. Ya saya akan berbagi tips untuk berjalan di sulitnya trek gunung. Yaitu dengan kaki selalu lentur setiap kali menapakan kaki di tanah dan tetap focus pada pijakan. Apabila kaki kamu kaku maka kemungkinan cidera bisa terjadi dan itu akan menghambat kamu dalam proses mendaki.

6. Jangan malu untuk meminta berhenti jika capek

Sebagai pendaki pemula pastinya kemampuan dalam mendaki tidak seperti merekan yang sudah terbiasa, maka kamu tidak perlu malu berkata capek dan minta untuk berhenti sejenak. Daripada di paksakan malah tidak baik.

7. Diusahakan tidak mengeluh

Mengeluh dalam perjalanan mendaki merupakan hal yang tidak baik untuk di lakukan. Dengan mengeluh akan mempengaruhi psikis dalam diri kita dan bisa berimbas pada tubuh. Dalam proses pendakian sebaiknya jangan mengeluh walaupun dalam keadaan seperti apapun, alangkah baiknya menyemangati diri sendiri dan selalu ceria agar perjalan mendaki gunung mu tidak terasa semakain berat dan yang pasti mengasyikan

8. Jangan membuang sampah di gunung

Tentu kita tidak inign kan indahnya lembah gunung yang di berikan tuhan kepada kita di kotori dengan sampah, maka jangan membuang sampah digunung. Alangkah baiknya jika sampah yang kita hasilkan di bawa turun.

9. Ikuti instruksi dan larangan petugas gunung

Sebelum mendaki kita tentunya harus mendaftar dulu ke petugas gunung setempat, nah setelah kita melakukan proses pendaftaran tersebut pastinya petugas gunung akan memberikan intruksi dan larangan ketika kita dalam perjalan mendaki gunung. Maka patuhilah instruksi dan larangan yang merekan sampikan.

Mungkin itu tips mendaki gunung bagi pemula yang bisa saya sampaikan.

SEWA OUTDOR CIKARANG

PENDAKI CIKARANG (PUSAT SEWA ALAT-ALAT OUTDOOR CAMPING HIKING CIKARANG)

SEWA PERALATAN OUTDOOR CIKARANG…….. adalah sebuah komunitas pecinta ketinggian dan penikmat alam yang mempunyai basecamp di daerah Jababeka, Cikarang Baru, Kabupaten Bekasi. Terbentuk sekitar tahun 2012 yang berawal dari beberapa anggota yang memulai petualangan ke beberapa gunung di Indonesia. Setelah beberapa lama berjalan seiring bertambahnya berbagai komunitas serupa dan banyaknya penggiat alam baru, akhirnya timbulah niat kami untuk saling membantu sesama pendaki dalam menyediakan berbagai macam perlatan pendakian di wilayah CIKARANG dan sekitarnya.
Dengan sistem RENTAL/SEWA, maka para pendaki tidak perlu khawatir bila ingin melakukan pendakian tapi belum mampu untuk membeli peralatan. Karena yang kami mengerti, bahwa peralatan mendaki gunung memanglah bukanlah peralatan murah. Jadi para pendaki tetap bisa melakukan pendakian dengan peralatan memadai dengan melakukan SEWA peralatan dari kami.
Alat-alat yang kami sewakan merupakan peralatan standar pendakian yang kami sarankan.  Selain karena pendakian merupakan kegiatan yang cukup berbahaya, kelengkapan peralatan yang harus dibawa memanglah harus sesuai bila para pendaki ingin melakukan kegiatan pendakian, tidak terjadi hal-hal yang tidak diinginkan karena kurangnya peralatan yang memadai.
Sebagai Pendaki, kami juga pernah merasakan keinginan untuk mendaki akan tetapi kurangnya peralatan memadai mengurungkan niat kami untuk melakukan pendakian. Jadi kami hadir untuk kawan-kawan dengan memberi solusi bahwa mendaki tetap bisa dilakukan tanpa harus membeli peralatan kalau memang kawan-kawan belum mempunyai biaya yang cukup untuk membeli peralatan pendakian.

TIPS DAN TRICK PENDAKIAN MERAPI 2019

Tips Mendaki Gunung Merapi, Kenali Fakta Unik dan Kisah Para Penakluknya

PENGUNJUNG berfoto dengan latar belakang Gunung Merapi di Selo, Boyolali, Jawa Tengah, Selasa 3 Juli 2018. Menurut Balai Pengembangan Dan Penyelidikan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), sampai saat ini status Gunung Merapi masih waspada karena berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental bahwa aktivitas vulkanis Gunung Merapi masih cukup tinggi.*

PENGUNJUNG berfoto dengan latar belakang Gunung Merapi di Selo, Boyolali, Jawa Tengah, Selasa 3 Juli 2018. Menurut Balai Pengembangan Dan Penyelidikan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), sampai saat ini status Gunung Merapi masih waspada karena berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental bahwa aktivitas vulkanis Gunung Merapi masih cukup tinggi.*

BERSIAP mendaki Gunung Merapi dalam waktu dekat, setelah dinyatakan aman kembali? Kalau begitu simak tips mendaki Gunung Merapi yang dirangkum PR, ditambah fakta-fakta unik dari gunung setinggi 2.930 mdpl itu.

Di lingkungan para pendaki dikenal dua gerbang dan basecamp pendakian di wilayah Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM). Di taman yang dikelola oleh UPT Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, terdapat 2 seksi wilayah mendaki Gunung Merapi. Yaitu seksi 1 Sleman dan Magelang, terdiri atas 4 Resor Cangkringan, Turi-Pakem, Sukun, Srumbung. Kemudian seksi 2 meliputi Boyolali dan Klaten, yang mencakup wilayah Resor Kemalang, Kemusuk-Cepogo, dan Selo. Di seksi 2 resor terdapat 2 pintu pendakian: Resor Selo atau New Selo dan Sapuangin.

Pengendali Ekosistem Hutan dan Kepala Resort Kemalang TNGM KLHK Arif Sulfianto menjelaskan, akses pendakian massal Gunung Merapi umumnya melalu Pos New Selo. Ini merupakan pintu pendakian massal, yang dibuka setiap hari.

Prosedurnya, pendaki mendaftar di basecamp Barameru dan meninggalkan kartu identitas seperti kartu tanda penduduk (KTP), membayar tiket masuk TNGM, kas desa, dan parkir. Kemudian petugas jaga pos mengecek perlengkapan pendaki apakah kelengkapan dan bekal sesuai atau belum de­ngan prosedur operasi standar (standard ­operating procedure/SOP).

Prosedur pendakian Selo sedikit berbeda dengan basecamp Sapuangin. Dari segi waktu pendakian, pendaki bisa berangkat ke puncak Merapi kapan saja, pagi, siang, atau malam, dengan pertimbangan di antaranya jarak tempuh lebih pendek (2,4 km), sementara pendaki melalui pintu masuk Sapuangin hanya diizinkan berangkat pagi hari karena jarak tempuh lebih panjang dan lama waktu tempuh (5,5 km).

Kondisi medan lebih berat melalui Sapuangin atau pendaki menyebut dengan istilah Ndeles. Sapuangin kondisi vegetasinya lebih bagus, kalau dibuka 24 jam, kegiatan pendakian dikhawatirkan merusak ekosistem. Kita buat jalur eksklusif. Selo tidak ada batasan waktu, jalur pendek dan ekosistem tidak ada yang khas. 

Ongkos dan larangan saat mendaki Gunung Merapi

Tips mendaki Gunung Merapi melalui pintu Selo maupun Sapuangin haruslah rombongan. Pendaki perorangan harus bergabung dengan kelompok pendaki lain. Apabila pendaki dalam jumlah banyak harus didampingi petugas penca­rian dan penyelamatan (search and res­cue/SAR). Apabila diperlukan, mereka disa­rankan menyewa guide maupun porter untuk membawa perlengkapan pendaki. 

Diungkapkan, Otoritas TNGM hanya memberlakukan tiket masuk Rp 7.500/hari plus asuransi Rp 7.000. Kemudian pendaki harus membayar parker dan kasus desa serta dana karang taruna di Pos Selo sebesar Rp 10.000. Untuk pendaki lewat Sapuangin tam­bahan biaya sekitar Rp 50.000 untuk dua hari pendakian. Pendaian tidak boleh sampai ke puncak pas Merapi. Pendaki harus ber­henti sampai lokasi yang dikenal Pasar Bubrah atau Pasar Bubar, posisinya sekitar 2 km dari puncak pas. 

”Pendaki dilarang menjejakkan kakinya sampai puncak. Larangan ini berkaitan de­ngan beberapa hal:  Merapi sering mengalami erupsi freatik (sifatnya tiba-tiba). Di puncak gunung terdapat banyak perangkat teknologi vulkanologi atau teknologi pengamatan gunung. Terdapat potensi pendaki mengubah posisi atau merusak peralatan pengamatan, melakukan fandalisme dan kegitan negatif lainnya,” ujar Arif.

Pendaki tersesat di Merapi biasanya selama tiga hari

Tips mendaki Gunung Merapi juga ditambah unik dengan kiat-kita jika pendaki tersesat. Biasanya mereka ditemukan petugas dalam kurun waktu kurang tiga hari.

Mayoritas ditemukan dalam kondisi hidup. Ini kejadiannya unik. Ketika pendaki yang sampai ke puncak (Pasar Bubrah/Pasar Bubar), saat mereka pulang muncul kabut.  Karena tidak paham topografi kawasan Merapi, mereka berjalan dengan mengikuti alur sungai dengan asumsi menyusuri hulu sungai pasti arahnya turun ke kaki gunung. Saat demikian pendaki (yang panik atau lelah) mengalami blank (pikiran kosong), tidak tahu apa-apa, tidak tahu arah mau ke mana.

Kalau diperhatian kasus-kasus demikian umumnya pendaki sebenarnya mengubah alur jalur. Mereka berangkat dari Pos Selo, saat turun tanpa menyadari mereka membelok ke arah Ndeles atau Sapuangin.

Jalur berbatu dan berdebu

Pendakian yang unik memang dirasakan sejumlah pendaki. Pada umumnya mereka merasakan jalur yang cukup berat, karena ada medan berbatu dan berdebu. Seperti yang dilakukan pendaki asal Karanganyar, Jawa Tengah, Luckman Aziz (25). Baginya mendaki Gunung Merapi memiliki kesulitan tersendiri. Jalan berpasir dan berbatu serta debu menjadi hal yang menantang. “Setelah Merapi meletus pada 2010, trek pendakian berbatu dan berpasir. Trek ini menguras tenaga pastinya. Namun, terbayar setelah sampai puncak. Hal itu membuat para pendaki ingin kembali ke Merapi,” ucapnya.

Sabtu, 15 Juli 2017 adalah hari di mana pendakian itu dimulai. Berangakat pukul 17.00 dari Solo bersama 6 orang saya menuju ke basecamp pendakian Merapi di Selo Boyolali. Memakan waktu 1,5 jam perjalanan dari Solo ke basecame. “Setelah melakukan pendaftaran dan mengecek peralatan yang kita bawa, kita mulai mendaki dari basecamp sekitar jam 7 malam. Kami pun memulai perjalanan dengan tidak tergesa-gesa mengingat perjalanan mendaki yang bisa dibilang cukup lama,” katanya.

Baginya, mendaki gunung Merapi bukan perkara mudah. Trek yang terus menanjak tanpa ada trek datar membuat setiap pendaki terkuras habis tenaganya. Apalagi medannya berupa tanah dan pasir serta bebatuan yang tajam, membuat para pendaki wajib memakai peralatan aman terutama sepatu gunung. 

Sabar, kunci melalui berbagai rintangan menuju puncak Merapi

Ia berbagi tips mendaki Gunung Merapi berikutnya. Yakni dari pos ke pos ia lalui dengan penuh kesabaran. Menurutnya, Selama perjalanan menuju pos terakhir ini banyak para pendaki yang sepertinya menyerah mencapai puncak dan mendirikan tenda di sepanjang sisi trek pendakian. 

Tanjakan terakhir menuju pos Pasar Bubrah adalah tanjakan Geger Boyo. ”Perjalanan menuju pos terkakhir di sini saya dan teman-teman sempat kesulitan dikarenakan trek yang berupa pasir dan berdebu ditambah suhu udara yang sangat dingin serta tenaga yang terkuras habis apalagi kaki yang sudah mengalami keram,” ujarnya.

Namun,  tanpa menyerah ia  bergerak perlahan menuju Pasar Bubrah. Akhirnya tepat pukul 00.00, ia dan rekannya sudah sampai di pos terakhir pendakian gunung Merapi yaitu Pasar Bubrah. ”Di pos terakhir inilah kami istrahat mendirikan tenda sambil menghangatkan badan dan tidur beberapa saat sampai menunggu matahari terbit,” ucapnya.

Saat matahari terbit, adalah pengalaman menakjubkan dari ketinggian 2.930 mdpl. ”Sungguh terbayar sudah penat, letih dan suhu udara dingin yang kita rasakan semalam dengan apa yang kita lihat pagi itu,” katanya.***

PENDAKIAN GUNUNG MERAPI : MENANTANG JALUR INDAH DAN ANGKER MERAPI VIA SELO

GAGAH , AGUNG, SI JAWARA CAKRAWALA

Awan, Asap, dan Api Sang Merapi

Tanggal 23 Desember 2016 lalu sewaktu masih masa liburan semester, terpikir olehku untuk refreshing ke suatu tempat; untuk menyegarkan pikiran dan menikmati pemandagan alam. Aku pun teringat bahwa si Bima alias Gombong pernah mencanangkan wacana untuk naik gunung, setelah kala itu mendaki Gunung Slamet bersama. Maka kuajaklah Bima dan Indah sekalian untuk jalan-jalan di Gunung Merapi, Boyolali. Kala itu Bima juga mengajak salah seorang temannya dari FH UNS, yaitu Dhika. Tak banyak barang yang kami bawa, karena memang kami tidak berencana untuk bermalam disana. Maka kami hanya memakai daypack saja, dengan berisikan flysheet, jas hujan, makanan, air, dan senter. Setelah belanja sedikit logistik, kami berangkat dari sekre GOVA pukul 23:00 WIB dengan 2 buah motor. GAS POL! Kecepatan motorku kala itu stabil pada angka 80 km/jam, sehingga kami sampai di basecamp Selo dengan cukup cepat (sekitar pukul 12:15 WIB). Jangan lupa sebats gaes, untuk menghilangkan hawa dingin akibat angin malam selama perjalanan hehe. Harga tiket masuk menuju Gunung Merapi yaitu Rp. 16.000,- per orang. Setelah beristirahat kurang lebih 30 menit, kami berempat pun berangkat dari basecamp pukul 12:50 WIB.

Baru sebentar berjalan, aku kembali lagi ke parkiran motor untuk mengambil jaket yang kutinggal. Angin yang berhembus sangat kencang membuatku berpikir dua kali untuk tidak memakai jaket. Hidungku yang sudah agak mampet sebelumnya mulai bertambah mampet dengan ingus yang muncrat kesana-kemari. Baru kali ini kurasakan angin bertiup sebegitu kencangnya. Okelah, daripada aku menjadi penghambat mereka, kuputuskan untuk tetap berjalan menerjang angin kencang. Perjalanan dari basecamp menuju checkpoint pertama (Objek wisata New Selo) sepertinya jadi perjalanan yang paling berat selama mendaki Gunung Merapi, karena area makadam (jalan aspal) yang membuat berat tubuh tidak bertumpu pada satu titik. Medan setelah tulisan New Selo menjadi lebih mudah, dengan tanah gambut yang tidak terlalu licin, serta bebatuan datar yang berukuran lumayan besar. Cocok sebagai tempat pijakan. Area perkebunan warga juga terhampar luas di sebelah kanan jalur pendakian. Kira-kira selama 2 jam perjalanan, kami tiba di gerbang yang bertuliskan “Taman Nasional Gunung Merapi” . Ternyata, kami telah tiba di POS I.

mer 5
Penampakan Merbabu dari Merapi

POS I

Area ini merupakan pos I, dimana terdapat shelter kecil di sebelah kanan yang cocok untuk beristirahat. Kami bersantai sejenak disini sambil meluruskan kaki sebentar. Pukul 03:00 WIB kami melangkahkan kaki dari tempat ini. Perjalanan kali ini agak lumayan krik-krik. Mungkin karena kondisi fisik kami yang mulai menurun dikarenakan angin kencang yang makin bertambah kencang, dan hawa dingin yang terus bertambah dingin. Jalur menuju Pos II lebih sulit, dengan pepohonan yang kadang menutupi jalan, sehingga membuat kita berputar-putar mengikuti jalan kecil. Terlebih lagi ada beberapa area dimana kita melangkahi bebatuan besar dengan jurang di kiri dan kanan kita. Cukup berbahaya, terlebih saat malam hari dengan penglihatan yang terbatas. Akhirnya selama sekitar 1,5 jam berjalan, kami tiba di POS II.

POS II

Kulihat arlojiku; waktu telah menunjukkan sekitar pukul 04:15 WIB. Kami memutuskan untuk kembali beristirahat karena lumayan lapar. Kami sembunyi di balik semak belukar yang rindang, untuk menghindari terpaan angin kencang. Setelah selesai makan snack, rasa mager yang luar biasa menghampiri kami berempat, karena cuaca tak kunjung membaik. Karena shelter di POS II digunakan untuk mendirikan dome oleh beberapa pendaki yang (tidak) tahu diri, kami jadi tak bisa beristirahat dengan santai sehingga harus melanjutkan kembali perjalanan sekitar pukul 04:30. Perjalanan dari POS II menuju titik checkpoint selanjutnya lebih mudah, karena jalurnya tidak terlalu menanjak.

PENDAKIAN GUNUNG MERAPI
Spot sebelum Watu Gajah
mer 3
Jangan lupa sebats

Area setelah POS II didominasi oleh bebatuan besar hasil muntahan erupsi Merapi. Jalur pendakian juga hanya berjarak beberapa meter dari jurang di sebelah kiri dan kanan. Waktu menunjukkan pukul 05:20 WIB, dan kami sama sekali belum tidur dan sarapan. Kami memutuskan untuk memasak mie instan dan kopi untuk mengganjal lapar kami di sebuah medan dengan tanah rata. Setelah selesai sarapan, kami melanjutkan kembali pendakian. Sekitar pukul 06:30 WIB, kami tiba di spot Watu Gajah, yaitu sebuah batu besar yang berdiri dekat dengan jurang. Dari tempat ini, Pasar Bubrah sangat jelas terlihat. Sekitar 30 menit berjalan dari Watu Gajah, kami mulai melewati medan dengan tanjakan yang lumayan tinggi, dengan batuan besar sebagai pijakannya. Setelah melewati tanjakan terakhir, kami pun tiba di Pasar Bubrah.

mer 8
Kabut yang menutupi hangatnya matahari
mer 6
Perjalanan menuju Pasar Bubrah

PASAR BUBRAH

Area ini merupakan area sebelum Puncak Merapi 2930 mdpl. Disini merupakan batas vegetasi, dengan camp area yang terhampar sangat luas (mungkin cukup untuk 200an tenda). Pasar Bubrah didominasi oleh batuan dan kerikil dengan berbagai ukuran. Matahari yang harusnya sudah muncul kala itu masih berdiam diri dibalik kabut tipis. Karena angin kala itu berhembus sangat kencang, maka kuputuskan Pasar Bubrah lah yang menjadi tujuan akhir ku dan juga Indah, sedangkan Bima dan Dhika bertekad untuk tetap melanjutkan hingga ke puncak. Saat perjalanan turun untuk mencari tempat aman dari terpaan angin, kulihat pemandangan yang sangat menawan, berselimut kabut dan awan. Merapi memang selalu menjanjikan pemandangan yang apik, walaupun tengah dilanda cuaca lumayan buruk. Akhirnya setelah berfoto-foto, kami berdua (Aku dan Indah) pun turun untuk memasak mie dan ngopi. Selama kurang lebih 3 jam kami menunggu dan tertidur sebentar, akhirnya mereka berdua datang. Tanpa basa-basi, kami langsung membereskan barang-barang kami, untuk segera beranjak pulang.

PENDAKIAN GUNUNG MERAPI
Pasar Bubrah, yang gersang dan panas
mer 7
Berfoto di area dekat Pasar Bubrah
mer 4
Indahnya landscape dari Watu Gajah

Ini adalah pengalaman keempat ku menapaki Gunung Merapi. Namun entah kenapa, selama empat kali pendakianku selalu saja disuguhi pemandangan yang selalu apik. Tak heran kenapa banyak sekali turis mancanegara yang datang kesini, tidak seperti di gunung-gunung lain dengan dominasi pengunjung lokal. Tak menyesal jua aku mendaki dengan kondisi fisik yang kurang fit, jika pada akhirnya kami pulang dengan mengantongi foto-foto yang eksotis. Anyway, see you next time, Merapi!

mer 1
Aku, Indah, dan Bima

Estimasi Pendakian Gunung Merapi (Via Selo)

Letak Basecamp: Desa Lencoh, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah

Lokasi Baecamp (Google Maps): https://goo.gl/maps/6HXk9oWDzAAghNGW7

Ketinggian Basecamp: ± 1.800 mdpl

Ketinggian Puncak: 2.930 mdpl

Kontak Basecamp: 0856-4065-7456

Tiket Masuk: Rp. 15.000,-

Akses Kendaraan Menuju Basecamp: Mobil, Kendaraan charteran, Motor

Akses Kendaraan di Gunung: –

Sumber Mata Air: –

Warung: 

Jumlah Pos: 2

Jarak Antar Pos:

– Basecamp – Pos 1               : ± 2 jam

– Pos 1 – Pos 2                         : ± 1,5 jam

– Pos 2 – Pasar Bubrah       : ± 1 jam

– Pasar Bubrah – Puncak   : ± 1 jam

Total Estimasi Waktu Pendakian: ± 5,5 jam – 6 jam

🙂

NB: Estimasi waktu pendakian tergantung pada kondisi fisik, kondisi mental, jumlah rombongan, kondisi cuaca, berapa lama berhenti untuk selfie & banyaknya waktu istirahat untuk sebat 

Pengalaman Pertama, Beratnya Pendakian, dan Cerita Mistis: Catatan Pendakian ke Gunung Merbabu, Jawa Tengah

Pendakian ke Gunung Merbabu, Jawa Tengah: – Bagiku, perjalanan yang paling bisa dinikmati adalah perjalanan menikmati alam.

Mungkin sama dengan sebagian besar orang.

Perjalanan atau Pendakian ke Gunung Merbabu ini merupakan salah satunya.

Perjalanan yang kuceritakan ini tak serta-merta menjadikanku sebagai seorang traveler, atau bahkan pendaki gunung.

Aku bukan anak gunung meski perjalanan dalam menaklukkan Puncak Kentheng Songo di Gunung Merbabu membuatku ketagihan untuk mengulangnya lagi di gunung yang berbeda.


“Great things are done when men and mountains meet.”

William Blake


Pendakian ke Gunung Merbabu: Awal Dari Pendakian Pertamaku

Daftar Isi GAISSS

Beberapa minggu setelah aku wisuda, teman-teman yang baru saja kukenal menyusun rencana untuk menaklukkan Puncak Gunung Merbabu.

Awalnya tentu saja aku ragu bahkan takut karena tidak pernah sekalipun aku melakukan pendakian.

Setelah mendengar cerita tentang pengalaman-pengalaman mereka yang sudah menaklukkan semua gunung di Jawa Barat, bak sales handal mereka mengundangku untuk turut serta, maka aku kemudian memastikan diri untuk ikut.

Rasa penasaran untuk menaklukkan gunung pertamaku ternyata lebih besar dari rasa was-wasku. Teristimewa karena pengaruh cerita menarik mereka. Akhirnya waktu dan meeting point pun ditentukan.

Transportasi juga sudah disiapkan. Alhasil, 10 orang lelaki tampan dan seorang wanita tangguh menjadi jumlah total tim pendaki kami yang waktu itu akan menaklukkan Puncak Merbabu.

Dan perlu diketahui, tak satu pun di antara kami yang sudah pernah menaklukkan Puncak Merbabu sebelumnya.

Rasa penasaranku yang ketika itu belum pernah mendaki gunung sama besarnya dengan rasa penasaran kolegaku yang sudah belasan kali melakukan pendakian.

Rasa penasaran yang sama besar di antara kami semua menjadi modal kuat untuk melakukan Perjalanan ke Gunung Merbabu.

Akhirnya, dengan biaya tiket Rp 100.000 per orang menumpangi kereta kelas ekonomi dari Stasiun Kereta Api Kiara Condong, Bandung pulang-pergi ke Stasiun Kereta Api Kutoarjo, Magelang, sudah dipesan.

Pendakian ke Gunung Merbabu pun dimulai. Dari Bandung kami berangkat tepat pukul 21:00 WIB. Kereta pun berangkat. Kurang-lebih 7,5 jam perjalanan, sekitar pukul 04:30 WIB kami tiba di stasiun tujuan. Segera kami mempersiapkan diri untuk melanjutkan perjalanan.

Sarapan, toilet, bekal perjalanan, rokok bagi yang perokok, membongkar ulang carrier, hingga informasi seputar lokasi yang harus ditempuh agar tiba, semuanya sudah siap dalam 1 jam.

stasiun kutoarjo menuju gunung merbabu
Stasiun Kutoarjo, Magelang

Kami kemudian menyewa sebuah angkutan umum untuk mengantarkan kami ke pasar terdekat demi memenuhi keperluan logistik sekaligus mengantar kami ke terminal berikutnya untuk menuju ke pintu masuk pendakian.

Akhirnya dalam perjalanan kurang lebih 45 menit, kami pun menyewa mobil dari pintu masuk pendakian menuju basecamp melalui Jalur Wekas. seharga Rp 150.000.

Setelah mendaftar masuk ke basecamp seharga Rp 1.000 per orang berikut fotokopi KTP, kami pun mulai mendaki. Pendakian pertamaku pun dimulai.

Jalanan yang harus ditempuh cukup terjal, tapi di awal, jalannya masih bagus dengan plester semen karena masih berada di sekitar pemukiman warga.

Beberapa jam kemudian, kami tiba di Pos 1 Telaga Anum dan berhenti sejenak untuk makan siang.

Di Pos 1 kami berhenti untuk sekedar menikmati kopi, sereal energi, mie instan, dan tentu saja berfoto. Sepanjang perjalanan banyak sekali kami jumpai pohon bunga edelweiss.

Belum ada bekas petikan bunga indah tersebut yang kami temukan sehingga kami juga tidak berani memetiknya (dan tentu ada larangan akan perusakan flora di sekitarnya).

Di kiri-kanan sepanjang jalan setapak yang kami tempuh, tanaman anggrek juga kami temukan menempel di pohon-pohon besar.

Suasananya sangat tenang dan nyaman. Belum lagi kami beberapa kali menjumpai mata air yang mengalir deras begitu saja.

Ada banyak spot yang bisa digunakan untuk berteduh menikmati hutan yang dilindungi itu, tetapi karena kami sadar bahwa kami harus sampai di Pos 2 sebelum hari gelap, maka tak ada waktu untuk meneduh berlama-lama.


Pos 2 Gunung Merbabu nan Syahdu

pos 2 gunung merbabu
Pos 2 Gunung Merbabu

Dengan perbincangan seru dan tawa sepanjang perjalanan membuat beban pendakian tak begitu terasa, akhirnya kami tiba di Pos 2, tempat di mana kami mendirikan tenda untuk menginap semalam sesuai rencana.

Puncak Merbabu masih jauh dan tak terlihat karena dihalangi oleh bebukitan yang mengelilingi Pos 2.

Untungnya di Pos 2 terdapat mata air yang sudah dipipa, sehingga kami semua mengantri untuk menikmatinya.

Sekedar membilas badan, mencuci muka, hingga melepaskan dahaga dengan air pegunungan jernih tersebut.

pos 2 gunung merbabu 2
Persiapan Memasak di Pos 2 Gunung Merbabu
pos2 gunung merbabu
Pagi Hari di Pos 2

Pendakian ke Gunung Merbabu pun tampaknya semakin berat. Satu malam di kaki gunung. Dua tenda didirikan dan satu lagi hanya bisa dijadikan bivak.

Semua orang sibuk mendirikan tenda, mempersiapkan peralatan makanan, membuat api unggun, berkeliling mencari kayu bakar, hingga memasak.

Karena tenda yang bisa didirikan hanya 2 yang masing-masing hanya mampu ditiduri maksimal 4 orang maka harus ada sebagian orang yang tidur di bivak dengan tumpukan carrier dan ada lima orang yang harus saling bergantian tidur di tenda (sesuai rencana).

Ketika itu aku sudah sangat lelah karena tidak ada persiapan latihan fisik sebelumnya, dan juga malam di sana sangat dingin, maka beranjak tidur duluan di dalam tenda adalah pilihan terbaik bagiku kala itu.

Ada dua orang yang harus menunggu hingga tengah malam agar bergantian denganku dan yang lain.

Sekitar pukul 01:00 WIB dini hari, aku dan dua orang temanku yang tidur dalam satu tenda bergantian dengan dua orang yang tadinya menunggu di antara api unggun.

Sayangnya, api unggun tersebut nyaris mati dan kami harus mencari ranting lagi sebagai bahan bakarnya.

Beberapa menit berjuang di tengah dinginnya malam untuk menyalakan api, akhirnya api tersebut nyala. Saat itu kami hanya bertiga saja di luar.

Ketika aku bangun, aku baru menyadari bahwa di sekitar tenda kami sudah ada sekitar 7 tenda dari pendaki lain yang sudah berdiri mengelilingi kami.

Ketika itu masih ada orang yang mencari-cari kayu bakar, rombongan pendaki lain yang baru saja tiba di Pos 2, dan rombongan pendaki yang melanjutkan perjalanan ke pos berikutnya, membuat malam turut pada keramaian.

Sambil menikmati api unggun dini hari di Pos 2, kaki Gunung Merbabu, kami juga menikmati kopi, lagu lawas, dan tentu saja rokok.

Saat itu malam menjelang pagi benar-benar sangat dingin sehingga dua lapis baju belum cukup untuk terhindar dari parahnya suhu.

Masing-masing kami menggunakan tidak kurang dari 4 lapis baju dan kain sebagai pelindung dari ekstrimnya suhu kala itu.

Menjelang pagi hari, ketika matahari perlahan muncul dari balik bukit, satu per satu teman pendaki kami dan anggota rombongan pendaki lainnya bangun dan bergabung dengan keramaian kala itu.

Indahnya hari membuat kami sangat khusyuk dalam menikmati suasana di sana. Sangat indah, teduh, dan nyaman.


Spot Terindah di Antara Puncak Kentheng Songo dan Syarief: Pendakian Berlanjut . . .

sunset gunung merbabu 1
Pemandangan Sunset Dimulai

Pendakian ke Gunung Merbabu pun berlanjut. Setelah semua anggota pendaki kami bangun, kami pun langsung mempersiapkan barang-barang, merapikan tenda, dan beranjak melanjutkan perjalanan.

Kali ini perjalanan untuk mencapai puncak jauh lebih melelahkan dari hari sebelumnya.

Jalanan terjal, bebatuan yang begitu besar harus dilalui, kemiringan jalur juga menjadi faktor lain yang sangat menguras tenaga.

Banyak sekali spot indah untuk dinikmati di sepanjang perjalanan, dan tentu saja kami tak ingin melewatinya.

Kami meneduh di beberapa spot yang menurut kami sangat nyaman sekaligus bagus untuk menikmati pemandangan.

Tadinya kami ingin berhenti sejenak menikmati santapan pengisi tenaga sebelum mencapai puncak, tetapi suasana kala itu sangat tidak kondusif untuk melakukannya.

Karena itu, dengan tenaga yang hanya tinggal beberapa lapis saja, kami pun berusaha mencapai puncak sebelum hari gelap.

Tepat sebelum mencapai puncak, kami memantapkan diri untuk saling menunggu anggota pendaki kami di sebuah spot antara Puncak Syarief dan Puncak Kentheng Songo.

Sambil menunggu, kami memasak mie instan aneka rasa dijadikan satu, bercampur dengan debu ketika kami memakannya karena ketika itu cuacanya kemarau, dan tentu saja kami membuat sereal energi serta kopi.

Di sana kami bertemu dengan rombongan asal Jakarta yang terdiri atas 7 orang, 4 lelaki biasa saja dan 3 wanita aduhai.

Dua di antara wanita tersebut baru saja wisuda sehingga perjalanan ke Merbabu kala itu adalah perayaannya. Kami cukup akrab dengan mereka lewat pertukaran cerita.

Kembali ke bagian sebelumnya, di spot itu, yang bisa dikatakan salah satu bagian Puncak Merbabu, kami bisa menikmati pemandangan yang luar biasa bagus.

Di arah Yogyakarta, kami bisa melihat Gunung Merapi berdiri anggun dengan puncak yang lebih rendah dari tempat kami berdiri.

Hamparan pemukiman warga Yogyakarta juga terlihat jelas, membentang hingga ke kaki Gunung Merapi.

Menatap ke arah Barat, terlihat tiga gunung terkenal. Tiga gunung itu adalah 3S yang populer, yakni: Gunung SumbingGunung Sindoro, dan di kejauhan jika cuaca baik samar-samar terlihat Gunung Slamet.

Tiga gunung itu membentang terlihat saling menantang. Awan dari puncak itu juga sangat bagus terlihat.

Dari sana, kami juga bisa menikmati sunset. Hamparan awan dan gunung yang ada terlihat seperti kapal yang berada di tengah lautan.

Tak lupa tentu saja kami berfoto-foto mengabadikan momen dan pemandangan yang ada.

puncak kentheng songo gunung merbabu
Penampakan Puncak Kentheng Songo, Tertinggi di Gunung Merbabu
antara kentheng songo dan puncak syarief gunung merbabu
Aye, Comrades!
awan gunung merbabu
Permadani Awan dari Gunung Merbabu
matahari gunung merbabu
walter pinem gunung merbabu
Walter Pinem
merbabu
Dari kiri ke kanan: Alsen, Walter, Bryan
sunset gunung merbabu 3
sunset gunung merbabu 2
sunset dari gunung merbabu 4
sunset dari gunung merbabu 5
sunset dari gunung merbabu 6

Setelah hari mulai gelap, kami berencana untuk menginap di Sabana II, tempat yang sangat nyaman untuk mendirikan tenda. Sekitar pukul 18:30 WIB kami mulai berkemas dan melanjutkan perjalanan.

Lautan lampu di arah Yogyakarta sangat indah terlihat dari sisi kiri kami. Bersama rombongan kami, ada rombongan dari Jakarta yang tadi disebutkan, juga melanjutkan perjalanan bersama kami. Ketika itu mereka yang berjalan duluan dan kami mengekordari belakang.

Beberapa ratus meter kami melangkah, dari jalur setapak itu di mana sisi kiri dan kanan kami adalah tempat terbuka, angin bertiup kencang sehingga membuat kami nyaris saja roboh.

Angin yang bertiupan saling bertabrakan, dari sisi satu dengan sisi lainnya bertabrakan, dan kamilah yang menjadi titik tabrakan angin itu.


Pendakian ke Gunung Merbabu: Hypothermia Attacked . . .

sunset dari gunung merbabu 7
Pemandangan langit malam hari di Gunung Merbabu

Pendakian ke Gunung Merbabu kami saat itu sudah hampir selesai. Di jalur yang terkenal sebagai Jembatan Setan, kami dengan susah payah berjalan di sisi tebing, dengan sisi kirinya adalah jurang, untuk mencapai tujuan.

Dengan memakan waktu beberapa menit, akhirnya kami berhasil melewatinya.

Aku sendiri sangat bergantung dengan penerangan dari senter teman-temanku karena senter yang kubawa tiba-tiba rusak. Dengan perjuangan yang lumayan berat, akhirnya kami berhasil melewati Jembatan Setan.

Rombongan dari Jakarta berhasil melewatinya lebih dulu, sehingga membuat jarak kami dengan mereka cukup jauh.

Setelah kami benar-benar berhasil melewati Jembatan Setan, tiba-tiba rombongan pendaki Jakarta tersebut saling berteriak. Tentu saja membuat kami kaget dan sedikit ketakutan.

Setelah mendengar teriakan itu, kami cepat-cepat mendatangi mereka. Ternyata salah satu di antara mereka terkena hipotermia.

Barang tentu, karena memang lokasi tempat kami berjalan tadi sangat terbuka, tidak ada penghalang sama sekali, sehingga angin malam di pegunungan yang berhembus kencang dengan mudahnya menghantam kami semua.

Badannya membiru, wajahnya pucat, dan getaran tubuhnya tak beraturan.

Untungnya, 3 orang perempuan yang ada di rombongan mereka adalah lulusan Ilmu Keperawatan, sehingga tak terlalu susah bagi mereka untuk mengatasinya.

Kami cepat-cepat mengeluarkan kompor portable untuk memanaskan air. Beberapa di antara mereka langsung meng-cover si korban.

Puluhan tetes minyak angin, balsem, jaket dan selimut belum mampu membuatnya menjadi lebih baik, bahkan lebih parah karena malam semakin larut dan angin semakin kencang.

Dengan kepanikan yang luar biasa, kami terus berusaha memanaskan air dan menjaga api di kompor agar tidak padam dihembus angin.

Karena lokasinya tidak berpenghalang, maka api kompor tidak fokus membakar di satu titik, sehingga membutuhkan lebih lama waktu agar air bisa dipanaskan dengan derajat yang cukup.

Karena spot itu terlalu sempit, kiri-kanan jurang, maka aku dan beberapa orang dari rombongan kami melanjutkan perjalanan hingga mencapai spot yang bagus untuk berhenti. Dua orang temanku mengorbankan jaketnya agar dikenakan oleh sang korban hipotermia.

Ternyata, di antara rombongan Jakarta, bertambah satu lagi korban hipotermia kala itu. Dua orang teman pendakiku menemani mereka sementara kami, ketika sampai di tempat yang tanahnya cukup datar, membuat api unggun dan tenda agar dengan cepat dapat dinikmati oleh para korban.

Untuk membuat api unggunnya juga membutuhkan perjuangan keras, mulai dari mencari kayu bakar dan pemantik bakaran, dan menjaga agar api tersebut tetap hidup.

Angin bertiup sangat kencang. Kami semua juga sudah sangat tidak sabar untuk menikmati api tersebut, barang tentu kami sudah tinggal 5 menit dari Puncak Kentheng Songo, puncak tertinggi di Gunung Merbabu, dengan suhu yang sangat dingin dan angin yang sangat kencang.

Untungnya, dua korban hipotermia tersebut berhasil membaik, dan mampu menyusul kami mendaki di tempat kami sudah menyelesaikan api unggun. Sebelumnya, dua orang teman pendakiku menyusul Tim SAR untuk meminta bantuan.

Waktu yang mereka butuhkan untuk tiba di pos Tim SAR adalah 11 jam pulang-pergi, sehingga kami sempat putus harapan dari bantuan tersebut.

Kami pun memutuskan untuk mendirikan tenda di tempat itu, di tempat terbuka 5 menit sebelum mencapai Puncak Kentheng Songo, Gunung Merbabu.

Akhirnya setelah mendekatkan diri di api unggun, dua korban hipotermia berhasil pulih.

Mereka pun kami anjurkan untuk duluan memasuki tenda yang sebelumnya sudah kami dirikan. Kami sendiri belum mendirikan tenda karena kami tadinya lebih memilih untuk melanjutkan perjalanan ke Sabana II dan mendirikan tenda di sana.

Ternyata karena berbagai hal, dan tentu saja diselingi oleh ketakutan kami atas keadaan korban hipotermia tadi, maka kami memutuskan untuk membatalkan rencana ke Sabana dan mendirikan tenda saja di tempat kami berpijak kala itu.


Pengalaman Menakutkan Saat Pendakian Gunung Merbabu

Kami memilih tempat di pinggir jurang karena tempat itu masih diselingi oleh pepohonan kecil, sehingga sedikit menghambat derasnya angin bertiup.

Saat mengeluarkan tenda dari dalam carrier-ku, aku melihat satu prasasti bertuliskan “In Memoriam” disertai dengan nama orang beserta tanggal kematiannya tepat di tempat kami akan bermalam.

Prasasti tersebut adalah tanda bahwa dia yang namanya tertulis di prasasti tersebut meninggal di tempat itu. Aku sendiri cukup ketakutan namun belum mau mengadu kepada teman-teman pendakiku.

Dan kami pun menginap tepat di dekat prasasti itu. Samar kami melihat di kejauhan cahaya lampu yang sepertinya muncul dari headlamp, ada dua titik cahaya, sedang bergerak menuju ke arah kami.

Kami mengira bahwa mereka adalah dua orang teman kami yang sedang mencari bantuan Tim SAR, mungkin memutuskan untuk kembali.

Kami memberikan siulan, berteriak, untuk memberi sinyal kepada mereka. Kebetulan siulan itu adalah kode siulan kami untuk menunggu satu dengan yang lain saat melakukan pendakian sebelumnya, manakala kami terpisah dan saling menunggu atau mencari.

Terdengar kode siulan yang sama menyahut siulan kami di mana dua titik cahaya itu berada. Kemudian cahaya itu menghilang tiba-tiba.

Kami berpikir bahwa cahaya itu menghilang karena terhalang oleh pepohonan atau semacamnya. Tetapi lama kami menunggu, cahaya itu sudah tak tampak lagi, dan siulan kami sudah tidak dibalas lagi

Padahal jaraknya cukup dekat. Akhirnya kami memasuki sebuah tenda. Tenda yang tadinya hanya mampu didiami maksimal 4 orang kami gunakan untuk berteduh dengan total 8 orang (dari total 11 orang; dua orang pergi mencari Tim SAR dan seorang lagi tidur di tenda rombongan Jakarta).

Kami berdelapan hanya bisa duduk berhadapan sambil menekuk kaki, berusaha tidur di tengah dinginnya malam, di tengah getaran dan suara angin yang menerpa tenda kami.

Sangat susah untuk tidur karena posisinya sangat tidak nyaman. Mungkin karena kami sudah sangat lelah, kami semua pun bisa tertidur meski tidak nyenyak sama sekali.

Tengah malam menjelang dini hari, aku dan beberapa orang temanku terbangun karena terdengar siulan kode yang kami gunakan.

Sambil bersiul, salah seorang temanku juga melihat cahaya lampu yang sepertinya muncul dari headlamp, sama seperti sebelumnya, sedang bergerak di kejauhan berjalan menuju Puncak Kentheng Songo.

Temanku memanggilnya agar dia tahu kami menenda di mana. Ketika berusaha menjemput, cahaya, suara langkah kaki dan siulan berhenti dan menghilang tiba-tiba di jalan menuju puncak. Padahal temanku itu sudah sangat dekat jaraknya dengannya.

Pada saat itu temanku yang menyaksikannya tersebut belum menceritakannya kepada kami. Esok hari sepanjang perjalanan kami pulang barulah ia menceritakannya, yang kemudian membuat bulu kuduk kami merinding.


Puncak Kentheng Songo dan Akhir Dari Pendakian ke Gunung Merbabu

Setelah berhasil melewati malam kedua dalam perjalanan menaklukkan Gunung Merbabu, kami pun bangun untuk menikmati sunrise dari Puncak Kentheng Songo.

Aku sendiri tidak begitu tertarik menikmatinya karena rasa kantuk dan lelah, serta dingin yang teramat menusuk, membuat aku lebih memilih untuk berada dalam pelukan sleeping bag di dalam tenda.

Tetapi sebelumnya aku juga menyaksikannya dari dalam tenda. Berkat posisi kami mendirikan tenda sudah berada di puncak, maka aku bisa menikmatinya dari dalam tenda tanpa harus susah payah menembus dinginnya pagi hari untuk menikmatinya dari Puncak Kentheng Songo.

gunung merapi
Pemandangan Gunung Merapi dari Gunung Merbabu

Setelah semuanya bangun, kami mempersiapkan sarapan. Aku sendiri tidak sarapan, dan lebih memilih menghabiskan waktu menikmati pemandangan di Puncak Kentheng Songo yang ternyata sangat dekat dari tempat kami mendirikan tenda.

Di malam hari tidak terlalu terlihat meski aku sudah tahu bahwa hanya akan butuh waktu 5 menit untuk sampai di puncak dari tempat kami mendirikan tenda. Sangat indah, dan aku betah berlama-lama di puncak.

Dari puncak, aku juga bisa melihat bahwa rombongan pendaki Jakarta sudah bangun, dan dua korban hipotermia sudah pulih sepenuhnya.

Tiba waktu untuk bersiap-siap, aku kemudian turun dan menyusun perlengkapan aku, sementara hanya kopi yang tersisa.

Alhasil, hanya tegukan kopi sajalah yang menjadi sumber energi aku untuk menuruni gunung kala itu.

gunung merbabu 5
Miring, bro!
menanjak merbabu
Daud ‘Mpie’
merbabu indah
Dari kiri ke kanan: Julian, Bryan, Daud ‘Mpie’

Akhirnya kami bersama-sama mendaki Puncak Kentheng Songo lagi,  di puncak tidak lupa kami mengabadikan momen.

Setelah puas, kami menghadap Gunung Merapi untuk menuju pintu keluar pendakian. Aku betul-betul lebih menikmati pemandangan ketika pulang daripada ketika datang.

Sangat indah, terlihat bersih, apalagi terbuka karena terlihat tegapnya Merapi berdiri seperti bisa diraih hanya sekali jalan dari Merbabu.

Aku sangat semangat sebelumnya, karena aku pikir menuruni gunung jauh lebih mudah daripada mendaki gunung.

Ternyata fakta yang aku alami malah sebaliknya. Ternyata 180 derajat lebih susah dan lebih melelahkan menuruni gunung daripada mendakinya. Apalagi carrier yang  kubawa sangat berat.

padang rumput merbabu
Padang Rumput Gunung Merbabu
gunung merbabu keren
Gunung Merapi, Padang Rumput, dan Bunga Edelweiss
gunung merapi dari merbabu
Gunung Merapi Menantang Kami
pos sabana gunung merbabu
Pos Sabana

Untuk menuruninya, ada satu jalur di mana jalurnya sangat curam. Sekitar kemiringan 65 derajat.

Ketika aku berhasil turun dan melihat lagi ke belakang, terlihat bukan seperti jalur yang baik untuk jalur turun atau pun pendakian.

Sangat curam, terlihat sama sekali tidak miring. Pos Sabana I dan Sabana II berhasil kami lewati.

Beberapa jam kemudian kami pun tiba di Basecamp Jalur Selo. Beberapa saat kami beristirahat di sana.

Setelah semuanya selesai, kami pun menyewa mobil pick up milik petani lokal untuk mengantarkan kami ke Stasiun Kutoarjo, Magelang, dari Boyolali, tempat kami keluar dari Gunung Merbabu.

Ternyata, jadwal dan target dari rencana awal yang sudah kami susun hancur berantakan karena kami terlambat mencapai pos terakhir di Boyolali.

Hal tersebut karena kami tadinya memang harus menginap di Pos Sabana I atau Sabana II, tetapi karena ada korban hipotermia yang tentu saja tidak mungkin kami tinggalkan, maka kami harus menginap di dekat Puncak Kentheng Songo.

Akhirnya, mobil pick up yang dikebut kencang memang tidak akan mampu mengantar kami tiba dari Boyolali ke Magelang, sehingga kami ketinggalan Kereta Api yang tiketnya memang sudah kami persiapkan pulang-pergi.

Oleh karena itu kami harus membayar tiket Rp 50.000 lagi dan harus menginap satu malam di stasiun.

Untungnya di malam hari, stasiun tersebut sangat sepi, sehingga bangku tunggu penumpang bisa kami gunakan sebagai alas tidur. Aku dan dua orang teman tidur paling larut karena kami menyempatkan diri bertukar cerita sambil membuat kopi dengan kompor portable.

Akhirnya pagi tiba dan stasiun sudah sangat penuh dengan sesama penumpang.

Pukul 08:00 WIB keberangkatan, kami siap mengakhiri perjalanan ke Gunung Merbabu dan kembali menghadapi realita hidup menuju Bandung, melanjutkan kegiatan sehari-hari.

perjalanan turun gunung merbabu
Sampai bertemu lagi, Gunung Merbabu!

Perjalanan pertamaku mendaki gunung adalah mendaki Gunung Merbabu, di mana aku mampu menantang tegapnya Gunung Merapi berdiri dari puncaknya.


Rincian Biaya Pendakian ke Gunung Merbabu:

Total biaya yang aku keluarkan untuk menaklukkan Gunung Merbabu dari Bandung adalah kurang lebih Rp 500.000, lengkap dengan biaya tak terduga.


  • Rp 150.000 total biaya transportasi ke Gunung Merbabu dari Bandung: Tiket kereta api kelas ekonomi dari Stasiun Kiara Condong Bandung – Stasiun Kutoarjo, Magelang:  pulang-pergi.
  • Rp 50.000 biaya keterlambatan.
  • Rp 100.000 total Biaya logistik.
  • Rp 100.000 Total Biaya transportasi dari Stasiun Kutoarjo, Magelang ke Pintu Masuk Pendakian ke Gunung Merbabu & transportasi dari Boyolali menuju Stasiun Kutoarjo, Magelang.
  • Rp 100.000 uang pegangan untuk keperluan lainnya selama perjalanan.

Rincian biaya pendakian ke Gunung Merbabu tersebut adalah rincian biaya pendakian per orang, dari Bandung tahun 2014


Biaya pendakian ke Gunung Merbabu dari Jakarta mungkin agak sedikit ber-margin, dibandingkan dengan biaya perjalanan ke Gunung Merbabu dari Bandung, dan transportasinya pun bisa langsung naik kereta api dari Stasiun Gambir atau pun Stasiun Senen.

Begitulah cerita pendakian ke Gunung Merbabu kami, dan beberapa informasi penting yang mungkin berguna bagi kalian yang merencanakan pendakian ke Gunung Merbabu. Terima kasih sudah membaca.

Introduce Yourself (Example Post)

This is an example post, originally published as part of Blogging University. Enroll in one of our ten programs, and start your blog right.

You’re going to publish a post today. Don’t worry about how your blog looks. Don’t worry if you haven’t given it a name yet, or you’re feeling overwhelmed. Just click the “New Post” button, and tell us why you’re here.

Why do this?

  • Because it gives new readers context. What are you about? Why should they read your blog?
  • Because it will help you focus you own ideas about your blog and what you’d like to do with it.

The post can be short or long, a personal intro to your life or a bloggy mission statement, a manifesto for the future or a simple outline of your the types of things you hope to publish.

To help you get started, here are a few questions:

  • Why are you blogging publicly, rather than keeping a personal journal?
  • What topics do you think you’ll write about?
  • Who would you love to connect with via your blog?
  • If you blog successfully throughout the next year, what would you hope to have accomplished?

You’re not locked into any of this; one of the wonderful things about blogs is how they constantly evolve as we learn, grow, and interact with one another — but it’s good to know where and why you started, and articulating your goals may just give you a few other post ideas.

Can’t think how to get started? Just write the first thing that pops into your head. Anne Lamott, author of a book on writing we love, says that you need to give yourself permission to write a “crappy first draft”. Anne makes a great point — just start writing, and worry about editing it later.

When you’re ready to publish, give your post three to five tags that describe your blog’s focus — writing, photography, fiction, parenting, food, cars, movies, sports, whatever. These tags will help others who care about your topics find you in the Reader. Make sure one of the tags is “zerotohero,” so other new bloggers can find you, too.