Tips Mendaki Gunung Merapi, Kenali Fakta Unik dan Kisah Para Penakluknya

PENGUNJUNG berfoto dengan latar belakang Gunung Merapi di Selo, Boyolali, Jawa Tengah, Selasa 3 Juli 2018. Menurut Balai Pengembangan Dan Penyelidikan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG), sampai saat ini status Gunung Merapi masih waspada karena berdasarkan hasil pengamatan visual dan instrumental bahwa aktivitas vulkanis Gunung Merapi masih cukup tinggi.*
BERSIAP mendaki Gunung Merapi dalam waktu dekat, setelah dinyatakan aman kembali? Kalau begitu simak tips mendaki Gunung Merapi yang dirangkum PR, ditambah fakta-fakta unik dari gunung setinggi 2.930 mdpl itu.
Di lingkungan para pendaki dikenal dua gerbang dan basecamp pendakian di wilayah Taman Nasional Gunung Merapi (TNGM). Di taman yang dikelola oleh UPT Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, terdapat 2 seksi wilayah mendaki Gunung Merapi. Yaitu seksi 1 Sleman dan Magelang, terdiri atas 4 Resor Cangkringan, Turi-Pakem, Sukun, Srumbung. Kemudian seksi 2 meliputi Boyolali dan Klaten, yang mencakup wilayah Resor Kemalang, Kemusuk-Cepogo, dan Selo. Di seksi 2 resor terdapat 2 pintu pendakian: Resor Selo atau New Selo dan Sapuangin.
Pengendali Ekosistem Hutan dan Kepala Resort Kemalang TNGM KLHK Arif Sulfianto menjelaskan, akses pendakian massal Gunung Merapi umumnya melalu Pos New Selo. Ini merupakan pintu pendakian massal, yang dibuka setiap hari.
Prosedurnya, pendaki mendaftar di basecamp Barameru dan meninggalkan kartu identitas seperti kartu tanda penduduk (KTP), membayar tiket masuk TNGM, kas desa, dan parkir. Kemudian petugas jaga pos mengecek perlengkapan pendaki apakah kelengkapan dan bekal sesuai atau belum dengan prosedur operasi standar (standard operating procedure/SOP).
Prosedur pendakian Selo sedikit berbeda dengan basecamp Sapuangin. Dari segi waktu pendakian, pendaki bisa berangkat ke puncak Merapi kapan saja, pagi, siang, atau malam, dengan pertimbangan di antaranya jarak tempuh lebih pendek (2,4 km), sementara pendaki melalui pintu masuk Sapuangin hanya diizinkan berangkat pagi hari karena jarak tempuh lebih panjang dan lama waktu tempuh (5,5 km).
Kondisi medan lebih berat melalui Sapuangin atau pendaki menyebut dengan istilah Ndeles. Sapuangin kondisi vegetasinya lebih bagus, kalau dibuka 24 jam, kegiatan pendakian dikhawatirkan merusak ekosistem. Kita buat jalur eksklusif. Selo tidak ada batasan waktu, jalur pendek dan ekosistem tidak ada yang khas.

Ongkos dan larangan saat mendaki Gunung Merapi
Tips mendaki Gunung Merapi melalui pintu Selo maupun Sapuangin haruslah rombongan. Pendaki perorangan harus bergabung dengan kelompok pendaki lain. Apabila pendaki dalam jumlah banyak harus didampingi petugas pencarian dan penyelamatan (search and rescue/SAR). Apabila diperlukan, mereka disarankan menyewa guide maupun porter untuk membawa perlengkapan pendaki.
Diungkapkan, Otoritas TNGM hanya memberlakukan tiket masuk Rp 7.500/hari plus asuransi Rp 7.000. Kemudian pendaki harus membayar parker dan kasus desa serta dana karang taruna di Pos Selo sebesar Rp 10.000. Untuk pendaki lewat Sapuangin tambahan biaya sekitar Rp 50.000 untuk dua hari pendakian. Pendaian tidak boleh sampai ke puncak pas Merapi. Pendaki harus berhenti sampai lokasi yang dikenal Pasar Bubrah atau Pasar Bubar, posisinya sekitar 2 km dari puncak pas.
”Pendaki dilarang menjejakkan kakinya sampai puncak. Larangan ini berkaitan dengan beberapa hal: Merapi sering mengalami erupsi freatik (sifatnya tiba-tiba). Di puncak gunung terdapat banyak perangkat teknologi vulkanologi atau teknologi pengamatan gunung. Terdapat potensi pendaki mengubah posisi atau merusak peralatan pengamatan, melakukan fandalisme dan kegitan negatif lainnya,” ujar Arif.
Pendaki tersesat di Merapi biasanya selama tiga hari
Tips mendaki Gunung Merapi juga ditambah unik dengan kiat-kita jika pendaki tersesat. Biasanya mereka ditemukan petugas dalam kurun waktu kurang tiga hari.
Mayoritas ditemukan dalam kondisi hidup. Ini kejadiannya unik. Ketika pendaki yang sampai ke puncak (Pasar Bubrah/Pasar Bubar), saat mereka pulang muncul kabut. Karena tidak paham topografi kawasan Merapi, mereka berjalan dengan mengikuti alur sungai dengan asumsi menyusuri hulu sungai pasti arahnya turun ke kaki gunung. Saat demikian pendaki (yang panik atau lelah) mengalami blank (pikiran kosong), tidak tahu apa-apa, tidak tahu arah mau ke mana.
Kalau diperhatian kasus-kasus demikian umumnya pendaki sebenarnya mengubah alur jalur. Mereka berangkat dari Pos Selo, saat turun tanpa menyadari mereka membelok ke arah Ndeles atau Sapuangin.
Jalur berbatu dan berdebu
Pendakian yang unik memang dirasakan sejumlah pendaki. Pada umumnya mereka merasakan jalur yang cukup berat, karena ada medan berbatu dan berdebu. Seperti yang dilakukan pendaki asal Karanganyar, Jawa Tengah, Luckman Aziz (25). Baginya mendaki Gunung Merapi memiliki kesulitan tersendiri. Jalan berpasir dan berbatu serta debu menjadi hal yang menantang. “Setelah Merapi meletus pada 2010, trek pendakian berbatu dan berpasir. Trek ini menguras tenaga pastinya. Namun, terbayar setelah sampai puncak. Hal itu membuat para pendaki ingin kembali ke Merapi,” ucapnya.
Sabtu, 15 Juli 2017 adalah hari di mana pendakian itu dimulai. Berangakat pukul 17.00 dari Solo bersama 6 orang saya menuju ke basecamp pendakian Merapi di Selo Boyolali. Memakan waktu 1,5 jam perjalanan dari Solo ke basecame. “Setelah melakukan pendaftaran dan mengecek peralatan yang kita bawa, kita mulai mendaki dari basecamp sekitar jam 7 malam. Kami pun memulai perjalanan dengan tidak tergesa-gesa mengingat perjalanan mendaki yang bisa dibilang cukup lama,” katanya.
Baginya, mendaki gunung Merapi bukan perkara mudah. Trek yang terus menanjak tanpa ada trek datar membuat setiap pendaki terkuras habis tenaganya. Apalagi medannya berupa tanah dan pasir serta bebatuan yang tajam, membuat para pendaki wajib memakai peralatan aman terutama sepatu gunung.

Sabar, kunci melalui berbagai rintangan menuju puncak Merapi
Ia berbagi tips mendaki Gunung Merapi berikutnya. Yakni dari pos ke pos ia lalui dengan penuh kesabaran. Menurutnya, Selama perjalanan menuju pos terakhir ini banyak para pendaki yang sepertinya menyerah mencapai puncak dan mendirikan tenda di sepanjang sisi trek pendakian.
Tanjakan terakhir menuju pos Pasar Bubrah adalah tanjakan Geger Boyo. ”Perjalanan menuju pos terkakhir di sini saya dan teman-teman sempat kesulitan dikarenakan trek yang berupa pasir dan berdebu ditambah suhu udara yang sangat dingin serta tenaga yang terkuras habis apalagi kaki yang sudah mengalami keram,” ujarnya.
Namun, tanpa menyerah ia bergerak perlahan menuju Pasar Bubrah. Akhirnya tepat pukul 00.00, ia dan rekannya sudah sampai di pos terakhir pendakian gunung Merapi yaitu Pasar Bubrah. ”Di pos terakhir inilah kami istrahat mendirikan tenda sambil menghangatkan badan dan tidur beberapa saat sampai menunggu matahari terbit,” ucapnya.
Saat matahari terbit, adalah pengalaman menakjubkan dari ketinggian 2.930 mdpl. ”Sungguh terbayar sudah penat, letih dan suhu udara dingin yang kita rasakan semalam dengan apa yang kita lihat pagi itu,” katanya.***