GAGAH , AGUNG, SI JAWARA CAKRAWALA
Awan, Asap, dan Api Sang Merapi
Tanggal 23 Desember 2016 lalu sewaktu masih masa liburan semester, terpikir olehku untuk refreshing ke suatu tempat; untuk menyegarkan pikiran dan menikmati pemandagan alam. Aku pun teringat bahwa si Bima alias Gombong pernah mencanangkan wacana untuk naik gunung, setelah kala itu mendaki Gunung Slamet bersama. Maka kuajaklah Bima dan Indah sekalian untuk jalan-jalan di Gunung Merapi, Boyolali. Kala itu Bima juga mengajak salah seorang temannya dari FH UNS, yaitu Dhika. Tak banyak barang yang kami bawa, karena memang kami tidak berencana untuk bermalam disana. Maka kami hanya memakai daypack saja, dengan berisikan flysheet, jas hujan, makanan, air, dan senter. Setelah belanja sedikit logistik, kami berangkat dari sekre GOVA pukul 23:00 WIB dengan 2 buah motor. GAS POL! Kecepatan motorku kala itu stabil pada angka 80 km/jam, sehingga kami sampai di basecamp Selo dengan cukup cepat (sekitar pukul 12:15 WIB). Jangan lupa sebats gaes, untuk menghilangkan hawa dingin akibat angin malam selama perjalanan hehe. Harga tiket masuk menuju Gunung Merapi yaitu Rp. 16.000,- per orang. Setelah beristirahat kurang lebih 30 menit, kami berempat pun berangkat dari basecamp pukul 12:50 WIB.
Baru sebentar berjalan, aku kembali lagi ke parkiran motor untuk mengambil jaket yang kutinggal. Angin yang berhembus sangat kencang membuatku berpikir dua kali untuk tidak memakai jaket. Hidungku yang sudah agak mampet sebelumnya mulai bertambah mampet dengan ingus yang muncrat kesana-kemari. Baru kali ini kurasakan angin bertiup sebegitu kencangnya. Okelah, daripada aku menjadi penghambat mereka, kuputuskan untuk tetap berjalan menerjang angin kencang. Perjalanan dari basecamp menuju checkpoint pertama (Objek wisata New Selo) sepertinya jadi perjalanan yang paling berat selama mendaki Gunung Merapi, karena area makadam (jalan aspal) yang membuat berat tubuh tidak bertumpu pada satu titik. Medan setelah tulisan New Selo menjadi lebih mudah, dengan tanah gambut yang tidak terlalu licin, serta bebatuan datar yang berukuran lumayan besar. Cocok sebagai tempat pijakan. Area perkebunan warga juga terhampar luas di sebelah kanan jalur pendakian. Kira-kira selama 2 jam perjalanan, kami tiba di gerbang yang bertuliskan “Taman Nasional Gunung Merapi” . Ternyata, kami telah tiba di POS I.

POS I
Area ini merupakan pos I, dimana terdapat shelter kecil di sebelah kanan yang cocok untuk beristirahat. Kami bersantai sejenak disini sambil meluruskan kaki sebentar. Pukul 03:00 WIB kami melangkahkan kaki dari tempat ini. Perjalanan kali ini agak lumayan krik-krik. Mungkin karena kondisi fisik kami yang mulai menurun dikarenakan angin kencang yang makin bertambah kencang, dan hawa dingin yang terus bertambah dingin. Jalur menuju Pos II lebih sulit, dengan pepohonan yang kadang menutupi jalan, sehingga membuat kita berputar-putar mengikuti jalan kecil. Terlebih lagi ada beberapa area dimana kita melangkahi bebatuan besar dengan jurang di kiri dan kanan kita. Cukup berbahaya, terlebih saat malam hari dengan penglihatan yang terbatas. Akhirnya selama sekitar 1,5 jam berjalan, kami tiba di POS II.
POS II
Kulihat arlojiku; waktu telah menunjukkan sekitar pukul 04:15 WIB. Kami memutuskan untuk kembali beristirahat karena lumayan lapar. Kami sembunyi di balik semak belukar yang rindang, untuk menghindari terpaan angin kencang. Setelah selesai makan snack, rasa mager yang luar biasa menghampiri kami berempat, karena cuaca tak kunjung membaik. Karena shelter di POS II digunakan untuk mendirikan dome oleh beberapa pendaki yang (tidak) tahu diri, kami jadi tak bisa beristirahat dengan santai sehingga harus melanjutkan kembali perjalanan sekitar pukul 04:30. Perjalanan dari POS II menuju titik checkpoint selanjutnya lebih mudah, karena jalurnya tidak terlalu menanjak.


Area setelah POS II didominasi oleh bebatuan besar hasil muntahan erupsi Merapi. Jalur pendakian juga hanya berjarak beberapa meter dari jurang di sebelah kiri dan kanan. Waktu menunjukkan pukul 05:20 WIB, dan kami sama sekali belum tidur dan sarapan. Kami memutuskan untuk memasak mie instan dan kopi untuk mengganjal lapar kami di sebuah medan dengan tanah rata. Setelah selesai sarapan, kami melanjutkan kembali pendakian. Sekitar pukul 06:30 WIB, kami tiba di spot Watu Gajah, yaitu sebuah batu besar yang berdiri dekat dengan jurang. Dari tempat ini, Pasar Bubrah sangat jelas terlihat. Sekitar 30 menit berjalan dari Watu Gajah, kami mulai melewati medan dengan tanjakan yang lumayan tinggi, dengan batuan besar sebagai pijakannya. Setelah melewati tanjakan terakhir, kami pun tiba di Pasar Bubrah.


PASAR BUBRAH
Area ini merupakan area sebelum Puncak Merapi 2930 mdpl. Disini merupakan batas vegetasi, dengan camp area yang terhampar sangat luas (mungkin cukup untuk 200an tenda). Pasar Bubrah didominasi oleh batuan dan kerikil dengan berbagai ukuran. Matahari yang harusnya sudah muncul kala itu masih berdiam diri dibalik kabut tipis. Karena angin kala itu berhembus sangat kencang, maka kuputuskan Pasar Bubrah lah yang menjadi tujuan akhir ku dan juga Indah, sedangkan Bima dan Dhika bertekad untuk tetap melanjutkan hingga ke puncak. Saat perjalanan turun untuk mencari tempat aman dari terpaan angin, kulihat pemandangan yang sangat menawan, berselimut kabut dan awan. Merapi memang selalu menjanjikan pemandangan yang apik, walaupun tengah dilanda cuaca lumayan buruk. Akhirnya setelah berfoto-foto, kami berdua (Aku dan Indah) pun turun untuk memasak mie dan ngopi. Selama kurang lebih 3 jam kami menunggu dan tertidur sebentar, akhirnya mereka berdua datang. Tanpa basa-basi, kami langsung membereskan barang-barang kami, untuk segera beranjak pulang.



Ini adalah pengalaman keempat ku menapaki Gunung Merapi. Namun entah kenapa, selama empat kali pendakianku selalu saja disuguhi pemandangan yang selalu apik. Tak heran kenapa banyak sekali turis mancanegara yang datang kesini, tidak seperti di gunung-gunung lain dengan dominasi pengunjung lokal. Tak menyesal jua aku mendaki dengan kondisi fisik yang kurang fit, jika pada akhirnya kami pulang dengan mengantongi foto-foto yang eksotis. Anyway, see you next time, Merapi!

Estimasi Pendakian Gunung Merapi (Via Selo)
Letak Basecamp: Desa Lencoh, Kecamatan Selo, Kabupaten Boyolali, Jawa Tengah
Lokasi Baecamp (Google Maps): https://goo.gl/maps/6HXk9oWDzAAghNGW7
Ketinggian Basecamp: ± 1.800 mdpl
Ketinggian Puncak: 2.930 mdpl
Kontak Basecamp: 0856-4065-7456
Tiket Masuk: Rp. 15.000,-
Akses Kendaraan Menuju Basecamp: Mobil, Kendaraan charteran, Motor
Akses Kendaraan di Gunung: –
Sumber Mata Air: –
Warung: –
Jumlah Pos: 2
Jarak Antar Pos:
– Basecamp – Pos 1 : ± 2 jam
– Pos 1 – Pos 2 : ± 1,5 jam
– Pos 2 – Pasar Bubrah : ± 1 jam
– Pasar Bubrah – Puncak : ± 1 jam
Total Estimasi Waktu Pendakian: ± 5,5 jam – 6 jam
NB: Estimasi waktu pendakian tergantung pada kondisi fisik, kondisi mental, jumlah rombongan, kondisi cuaca, berapa lama berhenti untuk selfie & banyaknya waktu istirahat untuk sebat